Mudik Naik Sepeda Motor, Pilihan Nyaman Kaum Pemudik

blank



Mudik naik sepeda motor tampaknya masih menjadi pilihan utama saudara kita dari perantauan yang pulang ke kampung halaman pada momentum Idulfitri. Alasan kaum pemudik memilih naik sepeda motor antara lain karena faktor kenyamanan.

Mudik merupakan tradisi yang abadi yang tampaknya akan terus bertahan entah sampai kapan, selagi fenomena sosial ekonomi dan demografi mendukungnya. Fenomena tahunan, ya mudik itu sendiri, yang dominan mengiringi Idulfitri ini terbentuk seiring dengan perkembangan komunitas urban di perantauan, entah di kota besar, kota kecil atau bahkan pulau di liintas provinsi.

Faktor sosial ekonomi membentuk kerangka tradisi mudik di mana tuntutan kehidupan mendorong masyarakat memilih untuk tinggal di luar tanah kelahiran. Menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi di kota besar. Meningkatkan taraf hidup dengan bekerja. Berdiam dan berdomisili untuk sementara waktu sampai kebutuhan sosial ekonomi tercukupi. Atau setidaknya tetap bertahan dalam gempuran zaman.

Sepeda motor sebagai alat transportasi juga dominan membentuk pola hidup keseharian masyarakat perantau. Moda transportasi publik ini cocok untuk kaum perantau, apalagi dengan jenis pekerjaan yang membutuhkan sarana sepda motor. Dan pada momen Idulfitri, mudik naik sepeda motor masih menjadi idola sekaligus pilihan utama.

Fenomena Ojek Online menjadi salah satu ciri dominan kaum prantau. Tentu masih banyak juga jenis pekerjaan lain yang mereka pilih untuk menjadi tulang punggung pendapatan keluarga. Dan sepeda motor, jenis kendaraan sejuta umat ini, lebih simple dalam operasional dan lalu lintasnya untuk mendukung aktifitas pekerjaan.

Pilihan Mudik dengan Nyaman

Sepeda motor hanya salah satu indikator pilihan transportasi kaum pemudik, namun ini merupakan sisi yang menarik. Pasalnya, pemudik yang pemotor, yang mudik dengan naik sepeda motor, tetap mendominasi prosesi mudik.

Kaum pemudik yang lain bisa saja memilih mudik tidak naik sepeda motor. Tapi naik pesawat terbang, naik kereta api, naik bus dengan membayar, atau naik bus yang disediakan oleh para pihak. Namun, fakta sosial ekonomi dan demografi menunjukkan mudik naik sepeda motor menjadi arus utama tahunan.

Mereka bahkan memenuhi ruas jalan raya, layaknya sebuah konvoi berpuluh-puluh kilometer yang mengundang pemandangan yang asyik untuk dilihat. Mengutip laman Kompas, tahun 2024 yang lalu pemudik yang naik sepeda motor tembus 30 juta orang.

Ini berdasarkan survey dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Survei internal itu menyebutkan, masyarakat yang hendak melakukan mudik menggunakan moda kendaraan roda dua tersebut mencapai 30 juta orang.

Baca juga: Naik Sepeda Motor, Pilihan Nyaman Bertransportasi

Mudik, Tradisi yang Abadi

Jumlah yang sangat fantastis tentunya, dan itu berarti masih menyisakan jumlah pemudik yang tidak menggunakan sepeda motor. Mereka bisa mencapai sepertiga dari jumlah pemudik pemotor. Lebih lanjut, dari jumlah yang ada, juga menunjukkan eksistensi kaum pemudik itu sendiri.

Dari mereka, kita belajar tentang tradisi mudik. Dan dari mereka, kita menyaksikan sejarah mudik sebagai tradisi terus menerus berkelanjutan. Dan mudik sudah menjadi tradisi yang abadi di tengah kehidupan sosial ekonomi yang semakin modern.

Idulfitri memang kemudiana identik dengan fenomena mudik. Namun faktanya, afrus mudik tidak hanya pada saat Idulfitri. Tapi saat Iduladha, Natal dan Tahun Baru, juga hari-hari libur nasional lainnya. Dengan begitu, tradisi mudik memang mendapatkan dukungan untuk tetap eksis dari sisi waktu juga animo masyarakat yang cenderung meenguat.

Memang, ada saat di mana mudik atau tidak mudik menjadi pilihan. Persis saat terjadinya wabah Corona atau Covid-19. Tapi mudik semua sudah pulih, dan sudah melebur menjadi kenormalan baru dengan cita rasa tradisi yang abadi.



Satria

Lifestyle

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *